Bandung – Pada 14-15 Oktober 2025, militer Israel kembali melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Hamas di Jalur Gaza. Insiden tersebut menyebabkan tewasnya sedikitnya sembilan warga Palestina yang tengah mencoba kembali ke rumah mereka di kawasan utara Kota Gaza dan selatan Khan Younis, dua wilayah yang termasuk zona yang harusnya aman berdasarkan kesepakatan damai yang baru saja dibuat.
Serangan ini dilaporkan terjadi saat warga sipil memeriksa rumah mereka di lingkungan Shujaiya, timur Kota Gaza, dan juga di Khan Younis. Pesawat tanpa awak Israel dan pasukan darat menembaki warga, yang menurut militer Israel diduga melanggar batas zona penarikan pasukan yang ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata tahap pertama. Militer Israel menyatakan bahwa mereka melepaskan tembakan untuk menghilangkan ancaman setelah warga itu dianggap tidak patuh pada peringatan untuk menjauh dari “zona kuning” penarikan militer Israel.
Pihak kesehatan dan layanan darurat Gaza mengkonfirmasi sejumlah korban tewas dan luka-luka pada kalangan warga sipil, yang menurut laporan termasuk anak-anak dan keluarga yang tidak bersenjata. Hamas mengecam tindakan Israel ini sebagai pelanggaran nyata atas perjanjian gencatan senjata dan menuduh Israel sengaja mengabaikan komitmen untuk menghentikan perang. Mereka meminta peran serta mediator dan komunitas internasional agar mengawasi dan mencegah pelanggaran berulang yang bisa memicu konflik lebih lanjut.
Ketegangan terjadi di tengah harapan dunia internasional yang mendukung kesepakatan gencatan senjata yang meliputi penghentian semua serangan dan pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas. Namun, fakta sebagian besar wilayah Gaza masih berada di bawah kendali militer Israel dan insiden pelanggaran ini menimbulkan keraguan yang serius mengenai kelangsungan perdamaian di kawasan tersebut.
Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam keras tindakan Israel yang merusak perjanjian gencatan senjata dan menyerukan agar ada sanksi tegas untuk mencegah terjadinya kekerasan lebih lanjut. Situasi di Gaza tetap rapuh, dan dunia semakin mendesak agar kedua pihak menahan diri serta mengutamakan dialog damai demi melindungi nyawa warga sipil yang terus menjadi korban konflik berkepanjangan.***
Kunjungi situs resmi kami disini
Ikuti media sosial resmi Amanah Kemanusiaan Global Instagram, Youtube, dan Threads untuk informasi terkini.
Anda juga bisa berdonasi disini
Baca juga artikel terbaru, klik disini