Bandung – Pada 21 Januari 2026, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu secara mengejutkan menerima posisi di Board of Peace, inisiatif Presiden AS Donald Trump untuk mengelola Gaza pasca-gencatan senjata. Board ini, didukung Resolusi DK PBB 2803, bertugas mengawasi tata kelola, rekonstruksi, dan stabilitas Gaza melalui komite eksekutif yang melibatkan pakar Palestina dan pasukan perdamaian sementara. Trump, sebagai ketua seumur hidup, melibatkan tokoh seperti Jared Kushner dan Tony Blair untuk Fase II: penarikan Israel, perlucutan Hamas, dan pembangunan kembali.
Namun, ironisnya, pengumuman Netanyahu disambut serangan militer Israel di Gaza. Helikopter gunship menyerang warga di Deir el-Balah, tembakan artileri menghantam utara dan selatan Gaza, serta pembongkaran rumah di Beit Lahiya—semua di zona “yellow line” gencatan senjata sejak Oktober 2025. Kementerian Kesehatan Gaza laporkan 483 tewas sejak gencatan, termasuk 169 anak dan 64 perempuan. Netanyahu, yang punya surat perintah ICC atas dugaan kejahatan perang (71.450+ korban sejak 2023), justru bergabung menjadi anggota board namun juga memblokir akses rekonstruksi.
Analis lihat ini dianggap sebagai taktik Israel. Meski setuju untuk bergabung setelah awalnya keberatan, militer Israel menolak komite Palestina NCAG yang ditunjuk board untuk administrasi sipil. Ini justru menghambat Fase II, dimana Israel harus menarik pasukan dan membiarkan Gaza mandiri menuju negara Palestina.
Netanyahu kemudian mengancam akan memulai kembali perang kecuali Hamas menyerah secara total, meski Trump mendesak untuk maju demi mencegah eskalasi regional seperti di Iran dan Suriah.
Kritik banyak datang dari Palestina dan para aktivis. “Bagaimana pelaku konflik akan memimpin perdamaian?” tanya pengamat, menyebut langkah Israel justru menyabotase board.
Al Jazeera mencatat, Israel melarang masuk pakar untuk program rekonstruksi Gaza, prioritas keamanan atas kemanusiaan. Sementara itu, Gaza tetap menderita dengan diblokadenya bantuan, kelaparan, dan trauma.
Board of Peace berpotensi menjadi tonggak, namun, serangan ke Gaza juga tak kunjung berhenti yang hanya menghasilkan retorika kosong. Komunitas internasional harus menekan Israel untuk mematuhi komitmen, agar Gaza bukan lagi menjadi medan perang tapi harapan atas perdamai.***
Kunjungi situs resmi kami disini
Ikuti media sosial resmi Amanah Kemanusiaan Global Instagram, Youtube, dan Threads untuk informasi terkini.
Anda juga bisa berdonasi disini