Bandung – Membaca punya kedudukan yang sangat istimewa dalam kehidupan manusia, khususnya seorang muslim. Bahkan, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bukan tentang shalat, puasa ataupun zakat, melainkan perintah untuk membaca.
Allah berfirman dalam Surat Al-‘Alaq ayat 1:
“Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq”
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa membaca adalah pintu awal peradaban Islam dan sarana utama untuk mengenal Allah, alam semesta bahkan diri sendiri.
Perintah “iqra’!” tidak hanya memiliki makna secara kontekstual, tapi juga mencakup membaca realitas kehidupan, tanda-tanda adanya kebesaran Allah dan ilmu pengetahuan. Menurut para mufasir besar seperti Ibnu Katsir, perintah “iqra’!” sebagai ayat pertama yang turun dalam Islam menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi utama keimanan dan amal seorang muslim. Karena tanpa ilmu, ibadah bisa kehilangan arah dan tujuan.
Membaca juga jadi salah satu jalan untuk memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an dan sunnah. Seorang muslim, jika hanya membaca Al-Qur’an secara lisan tanpa perlu membaca tafsir, sirah Nabi dan literatur keislaman lainnya akan terasa kurang.
Seorang muslim sejati harusnya mampu mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain agar pesan wahyu bisa dipahami secara kontekstual dan aplikatif dalam kehidupan modern. Dengan membaca, seorang muslim bisa membedakan antara haq dan bathil, antara ajaran Islam yang murni dan menyimpang.
Selain aspek spiritual, membaca berperan besar dalam membangun peradaban. Sejarah mencatat bahwa kejayaan Islam pada masa Abbasiyah lahir dari budaya membaca dan menulis yang kuat. Lembaga seperti Baitul Hikmah menjadi pusat penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini membuktikan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas individu, melainkan motor kemajuan umat.
Di era digital saat ini, tantangan terbesar bukan kurangnya informasi, melainkan kurangnya literasi. Seorang Muslim yang gemar membaca akan lebih kritis, bijak, dan tidak mudah terprovokasi oleh hoaks atau narasi yang menyesatkan. Membaca dengan niat ibadah juga menjadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar alat duniawi.
Dengan demikian, membaca adalah kewajiban moral dan spiritual bagi setiap Muslim. Ia merupakan perintah langsung dari Allah, sarana menuntut ilmu, serta jalan untuk membangun keimanan dan peradaban. Membaca, ketika dilakukan atas nama Allah akan melahirkan Muslim yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi umat manusia.***
Kunjungi situs resmi kami disini
Ikuti media sosial resmi Amanah Kemanusiaan Global Instagram, Youtube, dan Threads untuk informasi terkini.
Anda juga bisa berdonasi disini